Benarkah BitCoin Mining Itu Menguntungkan?

Benarkah BitCoin Mining Itu MenguntungkanBenarkah BitCoin Mining Itu Menguntungkan

Bitcoin sangat bergantung pada proses pertambangan ini. Karena dengan pertambangan yang dilakukan oleh para penambang Bitcoin (miner) ini akan memvalidasi setiap transaksi, membangun dan menyimpan blok baru tersebut ke dalam blockchain. Untuk menyimpan blok-blok baru ke dalam Blockchain ini, para penambang harus mencapai konsensus.

Sebenarnya EB sudah membahas sebagian besar tentang topik pertambangan Bitcoin ini. Namun kemudian jadi makin tergelitik lagi untuk mengulang pembahasan ini, lantaran banyak persepsi yang keliru tentang pertambangan Bitcoin. Banyak orang menganggap bahwa semua kegiatan mencari Bitcoin adalah menambang Bitcoin. Seperti mencari Bitcoin Gratis via faucet, giveaway, main game mendapat Bitcoin gratis, posting dapat bitcoin, di anggap menambang. Semoga dengan penjelasan ini bisa memberikan pemaknaan “menambang Bitcoin” yang sesungguhnya.

Di pembahasan “Penjelasan Lengkap Menambang Bitcoin” ini akan dibahas secara lengkap, dan terbagi menjadi 5 bagian:

  1. Peran Dan Fungsi Penambang
  2. Hardware Menambang Bitcoin
  3. Konsumsi Energi Dan Ekologi Pertambangan Bitcoin
  4. Pengertian Mining Pool

Peran Dan Fungsi Penambang (Miner)

Pertambangan Bitcoin yang sebenarnya, adalah sebuah kegiatan menambang menggunakan perangkat tertentu. Prosesnya melalui memecahkan serangkaian persoalan matematis (puzzle) berdasarkan tingkat kesulitan tertentu. Nah kegiatan inilah yang disebut dengan “Menambang” atau istilah kerennya adalah “Bitcoin Mining”.

Jadi jelasnya, bahwa jika seseorang menambang Bitcoin, artinya orang tersebut menggunakan perangkat pertambangan. Bisa menggunakan CPU, GPU, FPGA, maupun ASIC. Penjelasan tentang perangkat ini akan dibahas di bagian selanjutnya.

Pelaku pertambangan, disebut dengan istilah “penambang”, atau bahasa kerennya adalah “Miner”. Nah, kadang kala, kita juga masih menyisakan pertanyaan, apa sebenarnya yang dilakukan oleh penambang Bitcoin ini?

Mari kita membahasnya. Proses pertambangan Bitcoin mirip seperti halnya dengan pertambangan logam mulia seperti emas. Hanya saja perbedaannya, kalau Bitcoin pertambangannya dilakukan secara digital untuk memecahkan puzzle, dan pertambangan emas melalui proses pertambangan emas.

Menjadi mirip, karena kadangkala penambang ada yang merasa rugi, karena tidak bisa dan sulit menemukan emas, dan ada juga yang berhasil. Namun, gambaran nyatanya adalah, akan ada banyak kesulitan saat melakukan proses pertambangan tersebut.

Begitupun halnya dengan pertambangan Bitcoin. Ada sederet kesulitan dan tantangan yang dihadapi. Sedangkan untuk menjadi seorang penambang, maka kita harus terhubung ke dalam jaringan Bitcoin. Setelah terhubung, maka kita akan menjadi “node”. Istilah node ini menjelaskan tentang semua perangkat yang terhubung ke dalam jaringan Bitcoin.

Lalu apa saja yang dilakukan oleh penambang? Ketika seseorang terhubung ke dalam jaringan Bitcoin menggunakan sebuah perangkat, maka node tersebut akan melakukan serangkaian tugas. Tugas-tugas yang dilakukan tersebut adalah:

1. Mendengarkan transaksi

Semua node yang telah terhubung di dalam jaringan Bitcoin, harus mendengarkan semua transaksi yang terjadi. Dilanjutkan dengan memvalidasi transaksi yang didengar itu. Dengan melakukan pemeriksaan terhadap tanda tangan digitalnya (digital signature). Hal itu terkait kebenaran tanda tangan digital dan output yang di sertakan dalam transaksi itu harus benar-benar belum dihabiskan (belum dikeluarkan di transaksi lain-memastikan tidak ada double spending).

2. Menjaga Blockchain dan mendengarkan blok baru yang tercipta.

Seorang penambang, sebenarnya berfungsi untuk menjaga blockchain. Terkait dalam penanganan semua transaksi yang terjadi. Penambang pun, akan mempertahankan Blockchain yang telah menyimpan semua transaksi. Penambang, bisa meminta semua sejarah blok kepada node lain yang telah masuk sebelum ia masuk kedalam jaringan. Mendengarkan blok baru yang di broadcast di dalam jaringan, lalu memvalidasi blok yang di terima. Karena di dalam blok ada serangkaian transaksi, maka setiap transaksi yang ada di dalam blok itupun juga harus divalidasi, dan valid.

3. Membuat calon blok baru

Setelah kita memiliki salinan lengkap rantai blok (blockchain), maka kita bisa mulai membangun blok. Untuk melakukannya, dengan mengelompokkan semua transaksi yang kita dengar ke blok baru, yang nantinya bisa memperluas pada blok yang kita ketahui. Namun, kita pun harus bisa memastikan bahwa semua transaksi di dalam blok itu adalah valid.

4. Mencari Nonce agar menjadi blok yang valid

Setelah kita memvalidasi semua transaksi pada calon blok tadi, selanjutnya adalah mencari nonce agar bisa membuat blok tersebut menjadi valid. Langkah disini adalah langkah yang paling sulit yang dihadapi oleh para penambang.

5. Berharap Blok diterima

Ini adalah kesulitan kedua yang dihadapi. Jadi, jika kita menemukan sebuah blok baru, tidak ada jaminan bahwa blok itu akan bisa menjadi bagian dari konsensus blockchain. Penambang membutuhkan keberuntungan disini. Berharap agar penambang lain menerima usulan blok tersebut. Sehingga kita bisa mulai menambang diatas blok tersebut. Jadi bukan pada blok penambang lain.

6. Menerima Keuntungan

Jika ternyata penambang lain menerima blok kita sebagai blok yang valid, maka inilah saat yang membuat penambang tersenyum puas setelah melakukan pekerjaan beratnya. Karena jika blok kita diterima, maka akan memperoleh reward sebesar 25 Bitcoin (yang masih berlaku di saat ini). Selain itu, jika beberapa transaksi di dalam blok itu dicantumkan biaya transaksi, penambang pun bisa mengumpulkan semua biaya transaksi tersebut.

Nah, keenam hal tersebut adalah hal yang harus dikerjakan oleh para penambang. Jadi jelas ya, bahwa menambang itu bukan dimaknai seperti pada mencari Bitcoin di faucet, giveaway atau yang lain. Namun, menambang disini ya artinya menggunakan alat tertentu, yang dalam prosesnya mengerjakan keenam hal tersebut diatas.

2. Hardware Menambang Bitcoin

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa untuk melakukan pertambangan Bitcoin, dibutuhkan sebuah perangkat keras untuk melakukan perhitungan atau komputasi dalam memecahkan puzzle. Seiring dengan perkembangan jaman, dan tingkat kesulitan yang makin bertambah, daya komputasi pun makin ditunjang juga dengan perkembangan perangkat keras ini.

Pengkalkulasian dalam pertambangan menggunakan fungsi hash SHA-256. SHA ini adalah singkatan dari Secure Hash Algorithm. Pada saat Bitcoin diciptakan oleh Satoshi Nakamoto, memilih menggunakan SHA-256, tentu saja karena fungsi hash yang paling bagus dan bisa digunakan saat itu adalah SHA-256 ini.

SHA-256 adalah satu famili di SHA-2. Ada beberapa yang sejenis di SHA-2 seperti pada SHA-224, SHA-384, dan SHA-512. Sementara pada SHA-256 terdapat 256 bit. Setiap fungsinya bisa beroperasi pada 32 bit kata. Sehingga bisa mengakomodir hardware 32 bit. Angka 256 ini berasal dari 256 bit state dan output. Pada perkembangan selanjutnya, telah muncul family SHA-3. Namun masih belum digunakan di dalam Bitcoin.

Para penambang, harus bisa menghitung fungsi ini secepat mungkin. Sehingga penambang akan saling berlomba satu sama lain. Semakin cepat, maka semakin banyak pula keuntungan yang bisa mereka peroleh. Nah, sekarang mari kita lihat beberapa jenis perangkat pertambangan yang bisa digunakan untuk menambang Bitcoin.

Menambang Bitcoin Dengan CPU

Saat pertama kali Bitcoin mulai dijalankan, perangkat yang digunakan bisa dilakukan hanya dengan menggunakan CPU pada komputer biasa. Tentu saja, hal itu karena tingkat kesulitan pada saat itu juga masih rendah bukan. Jadi pertambangan menggunakan CPU ini dianggap sebagai generasi pertama perangkat pertambangan Bitcoin.

Pada saat itu, bisa dikatakan para penambang hanya mencari nonce lebih secara linier dengan SHA-256. Dan memeriksa selanjutnya, jika telah menghasilkan sebuah blok yang valid.

Yang menjadi pertanyaan, seberapa cepat jika pertambangan Bitcoin dilakukan dengan CPU? Jika komputer yang digunakan adalah komputer high end di masa saat ini kemungkinannya kurang lebih 20-25 juta hash per detik, dalam satuan MH/s. Dan jika dibandingkan pada tingkat kesulitan yang ada pada saat ini, mungkin akan membutuhkan beberapa ribu tahun untuk bisa menemukan blok yang valid. Sehingga pertambangan dengan CPU ini benar-benar sudah menjadi cukup sulit.

Pertambangan dengan menggunakan CPU, tidak lagi menguntungkan pada masa sekarang. Bagi orang-orang yang pernah melakukan pertambangan menggunakan CPU, pastinya akan merasa kecewa, karena mereka juga belum mengetahui secara pasti bagaimana cara kerja Bitcoin.

Menambang Bitcoin Dengan GPU

Kartu Grafis, salah satu perangkat untuk menambang dengan GPU
Generasi kedua selanjutnya, adalah penambang mulai menggunakan GPU. Sebuah kartu grafis yang hampir digunakan di semua jenis komputer dewasa ini. GPU ini bisa menghasilkan paralelisme yang tinggi, dan bisa cukup berguna dalam hal pertambangan Bitcoin.

Pertambangan Bitcoin bisa di paralelkan, sehingga penambang juga bisa mencoba melakukan hashing pada waktu yang sama dengan nonce yang berbeda. Ketika OpenCL mulai dirilis di tahun 2010, memungkinkan untuk menjalankan berbagai jenis perhitungan yang lebih cepat pada sebuah kartu grafis. Karena hal ini jugalah yang pada akhirnya membuka peluang untuk bisa melakukan pertambangan Bitcoin melalui GPU.

Sebuah kartu grafis mempunyai properti yang bisa dibilang cukup atraktif. Mudah untuk digunakan, bahkan orang yang masih amatir pun akan mudah melakukan setting awal kartu grafis ini. Membeli kartu grafis pun juga cukup mudah dicari di pasaran. Dan satu manfaat utamanya adalah, kartu grafis juga bagus untuk pertambangan Bitcoin.

Mengapa dikatakan bagus? Karena kartu grafis bisa bekerja secara paralel, yang bisa digunakan sebagai simultan perhitungan di SHA-256. Bahkan, beberapa jenis GPU juga telah memiliki instruksi khusus untuk bisa melakukan operasi yang cukup berguna di SHA-256. Dan satu lagi yang menarik, karena kebanyakan kartu grafis bisa di overclocked, meski juga cukup beresiko jika terlalu dipaksakan. Kesalahan pun bisa terjadi saat melakukan perhitungan SHA-256 menggunakan overclocked ini.

Pertambangan dengan GPU ini bisa dimodifikasi sedemikian rupa. Sehingga penambang bisa membuat dan merancang beberapa GPU dalam satu motherboard. Bahkan banyak juga para penambang yang membuat rancangan khusus serupa, dengan menggunakan banyak GPU yang digabungkan dalam satu set motherboard. Sehingga keseluruh GPU itu pun bisa digunakan bersama-sama dalam menambang Bitcoin.

Salah satu contoh perakitan GPU ini bisa dibaca disini: Membuat Sendiri GPU Mining Rig

GPU ada kelebihan, tentu juga ada kekurangan. GPU membutuhkan daya yang besar. Sehingga konsumsi listrikpun juga menjadi besar. Disamping itu, biaya untuk merangkai GPU ini juga lumayan mahal, terlebih jika berniat untuk menggunakan kartu grafis yang banyak. Dan pendingin pun banyak yang tidak terjelaskan spesifikasi yang baik untuk menunjang kinerja GPU ini.

3. Konsumsi Energi Dan Ekologi Pertambangan Bitcoin

Munculnya pusat pertambangan besar secara profesional membuat dominasi pertambangan Bitcoin. Hal ini seakan sama persis dengan pertambangan emas. Terutama, bagaimana peran perusahaan besar di pertambangan emas yang telah banyak menimbulkan kerusakan lingkungan.

Sementara di Bitcoin, mungkin tidak akan menjadi sebesar itu sebagai dampaknya. Namun, pertambangan Bitcoin juga membutuhkan energi yang besar. Secara tidak langsung, akan juga berdampak bagi mata uang, dan juga lingkungan.

Ada sebuah hukum fisika yang dikenal dengan prinsip Landauer, oleh Ralph Landauer di tahun 1960. Pada hukum fisika itu menyatakan bahwa setiap komputasi non-reversible (searah-tidak dapat dibalik) akan membutuhkan sejumlah minimum energi. Logikanya, setiap komputasi secara irreversible dianggap dapat menghilangnya sebuah informasi. Terutama, di dalam prinsip hukum fisika itu, menyatakan bahwa setiap bit akan mengkonsumsi minimal (kT In 2) joules. Dimana K adalah konstan Boltzmann, atau kurang lebih 1.38×10-23 J/K. Disitu, T adalah temperatur sirkuit dalam ukuran Kelvin, dan In 2 adalah algoritma biasa dari 2, atau kurang lebih bernilai 0.69. Jumlah kecil ini adalah jumlah energi per bit. Dari hukum fisika ini, menjelaskan bahwa sebuah komputasi, akan membutuhkan energi yang bisa dihitung tiap bit.

Sedangkan SHA256, ada yang menganggap bukanlah sebuah komputasi reversible. Dijelaskan dalam hukum fisika diatas, bahwa setiap komputasi yang non-reversible akan membutuhkan energi, dan SHA-256 digunakan sebagai dasar pertambangan Bitcoin. Sehingga artinya, komputasi pertambangan Bitcoin juga membutuhkan energi.

Lalu bagaimana bisa Bitcoin akan membutuhkan energi?

Pertambangan Bitcoin, tidak bisa memungkiri akan memakan konsumsi energi. Meskipun, jumlah energi yang digunakan masih jauh dari jumlah keseluruhan energi listrik yang digunakan di dunia saat ini. Namun kenyataannya adalah pertambangan Bitcoin memang membutuhkan energi listrik.

Pada perangkat pertambangan tentu perlu diproduksi. Baik saat masih berupa bahan baku fisiknya, lalu mengubahnya menjadi perangkat pertambangan Asic. Dan dari proses tersebut juga akan membutuhkan energi. Sedangkan untuk pengiriman produk jadi perangkat Asic kepada konsumen, juga memakan energi dalam pengirimannya. Lalu, berlanjut lagi setelah perangkat tersebut digunakan untuk pertambangan Bitcoin, komputasi perangkatnya juga akan memakan energi.

Dari tingkat konsumsi energy yang telah berlangsung di pertambangan Bitcoin saat ini, banyak harapan yang akan bisa menurunkan tingkat konsumsi energi. Terutama pada proses pertambangan Bitcoin. Mari kita lihat lebih jauh tingkat konsumsi energi dalam Bitcoin.

Kebutuhan Daya Listrik

Seperti yang telah dijelaskan di atas, bahwa ketika pertambangan Bitcoin dilakukan akan mengkonsumsi listrik, yakni listrik. Begitupun halnya ketika menggunakan perangkat Asic. Pada perkembangan perangkat pertambangan, bisa dibilang ada penurunan dan efektifitas penggunaan energi listrik.

Namun ketika Asic masuk, meski pada akhirnya ada perkembangan perangkat Asic yang memungkinkan untuk mengkonsumsi listrik lebih rendah, namun bisa dikatakan, karena Asic jugalah hash rate di jaringan Bitcoin meningkat pesat. Dan hal itu juga berimplikasi pada peningkatan konsumsi listrik untuk pertambangan Bitcoin.

sumber : edukasibitcoin.com

Be the first to comment on "Benarkah BitCoin Mining Itu Menguntungkan?"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*